Badai Dust Bowl “Black Sunday” melanda

Pada tanggal 14 April 1935, sebuah badai dahsyat yang dikenal sebagai "Black Sunday" melanda daerah yang mengalami bencana besar selama era Dust Bowl. Angin kencang mengangkat jutaan ton tanah dan debu, menciptakan awan gelap yang begitu padat hingga banyak saksi mata berpikir dunia akan kiamat. Istilah "dust bowl" pertama kali diungkapkan oleh seorang jurnalis pada pertengahan 1930-an, merujuk pada dataran di Kansas barat, Colorado tenggara, bagian Texas dan Oklahoma, serta wilayah timur laut New Mexico. Pada awal 1930-an, dataran hijau di wilayah ini telah dibajak secara berlebihan oleh petani dan digembalakan oleh ternak, yang mengakibatkan erosi tanah. Ditambah dengan kekeringan yang berlangsung selama delapan tahun sejak 1931, situasi ini menjadi sangat menyedihkan bagi para petani dan penggembala. Tanaman gagal, bisnis runtuh, dan semakin banyak badai debu membuat penduduk dan hewan sakit. Banyak penduduk meninggalkan daerah tersebut untuk mencari pekerjaan di negara bagian lain seperti California. Dalam buku-buku seperti "The Grapes of Wrath" karya John Steinbeck, diceritakan tentang perjalanan mereka. Pada pertengahan 1930-an, pemerintahan Presiden Franklin D. Roosevelt memperkenalkan program untuk membantu mengatasi krisis pertanian. Salah satu inisiatif ini adalah pembentukan Soil Conservation Service (SCS) di Departemen Pertanian. SCS mendorong penggunaan teknik pertanian dan pengelolaan lahan yang lebih baik, dengan bayar kepada petani yang menerapkan praktik tersebut. Bagi banyak petani di Dust Bowl, bantuan federal ini menjadi satu-satunya sumber pendapatan mereka. Era Dust Bowl akhirnya berakhir ketika hujan datang dan kekeringan berakhir pada tahun 1939. Meski kekeringan tetap menjadi bagian dari kehidupan di wilayah tersebut, teknik pertanian yang lebih baik berhasil mengurangi masalah erosi tanah dan mencegah terulangnya bencana seperti di tahun 1930-an.
"Hari ini dalam Sejarah" lainnya